<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Abufariq</title>
	<atom:link href="http://abufariq.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufariq.wordpress.com</link>
	<description>Katakan Kebenaran Walaupun Itu Pahit</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Oct 2010 08:51:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abufariq.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Abufariq</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abufariq.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Abufariq" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abufariq.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Peluang Bisnis Kerupuk Buah &amp; Sayuran</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/10/08/peluang-bisnis-kerupuk-buah-sayuran/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/10/08/peluang-bisnis-kerupuk-buah-sayuran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 08:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia merupakan negeri yang kaya akan buah dan sayur. Berlimpahnya buah dan sayur, terkadang menjadikannya memiliki nilai jual yang rendah. Sebagai contoh, kita bisa mendapatkan buah pepaya dengan berat 5 kg hanya seharga Rp 2000-3000. Murah sekali bukan? Bahkan di daerah tertentu, banyak buah-buahan terbuang percuma, karena tidak termanfaatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=62&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia merupakan negeri yang kaya akan buah dan sayur. Berlimpahnya buah dan sayur, terkadang menjadikannya memiliki nilai jual yang rendah. Sebagai contoh, kita bisa mendapatkan buah pepaya dengan berat 5 kg hanya seharga Rp 2000-3000. Murah sekali bukan? Bahkan di daerah tertentu, banyak buah-buahan terbuang percuma, karena tidak termanfaatkan.</p>
<p>Salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual buah dan sayur adalah dengan menjadikannya keripik. Inilah peluang bisnis Anda. Dengan menjadikannya keripik, nilai jual buah dan sayur bisa berlipat-lipat. Sebagai gambaran 1 kg keripik pepaya bisa dihargai Rp 65.000. Sementara keripik salak seharga Rp 90.000 / kg. Apalagi, jika kita memproses buah menjadi kripik, maka dia akan lebih tahan lama dan awet hingga berminggu-minggu. Bandingkan jika anda hanya menjual buah saja.</p>
<p><strong>Cara Membuat Keripik Buah dan Sayur</strong></p>
<p>Untuk menggoreng buah-buahan yang akan dijadikan sebagai produk olahan terlebih keripik, kita memang harus memiliki sebuah alat yang dinamakan vacuum fryer (Mesin Penggoreng Hampa). Kita sulit menghasilkan produk buah olahan berupa kripik dengan menggunakan alat penggoreng biasa.</p>
<p>Seperti kita ketahui bersama, untuk komoditi buah-buahan hampir semuanya memiliki kandungan glukosa (gula) yang cukup tinggi. Oleh karena itu, bila kita mengolahnya dengan cara menggoreng menggunakan alat penggoreng biasa, keinginan untuk bisa berubah menjadi kripik tidak akan mungkin bisa tercapai, justru buah yang kita goreng malah meleleh seperti jelly atau  membuat buah menjadi gosong.  Beberapa kelebihan menggoreng buah dengan mesin vacuum frying :</p>
<ol>
<li>Tidak gosong</li>
<li>Kandungan nutrisi tidak hilang (tetap menyehatkan)</li>
<li>Rasa, dan aroma sesuai bahan aslinya</li>
<li>Renyah</li>
<li>Tidak perlu bahan pengawet atau bahan kimia</li>
<li>Tidak perlu penambah rasa buatan</li>
<li>Makanan yang memiliki nilai gizi dan serat tinggi</li>
</ol>
<p>Cara pemakaian mesin vacuum frying juga sangat mudah. Potong-potong buah yang ingin dibuat kripik hingga ukuran yang nyaman untuk dimakan. jika terlalu besar akan mengakibatkan anda kurang nyaman sewaktu memakannya, namun jika terlalu kecil akan membuat anda membutuhkan waktu yang lama untuk memprosesnya.</p>
<p>Setelah potongan buah siap,  memasukkan buah / sayur yang telah dicuci ke dalam mesin. Tidak perlu tambahan perasa atau bahan-bahan lain.</p>
<p><strong>Aneka Rasa Keripik Buah dan Sayur</strong></p>
<p>Hampir tiap buah dapat dimanfaatkan untuk membuat kripik. Diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Nangka</li>
<li>Salak</li>
<li>Apel</li>
<li>Mangga</li>
<li>Melon</li>
<li>Pepaya</li>
<li>Wortel</li>
<li>Kentang</li>
<li>Kacang Panjang</li>
<li>Durian</li>
<li>Nanas</li>
<li>Dll</li>
</ul>
<p><strong>Peluang Bisnis Masih Terbuka Lebar</strong></p>
<p>Bicara bisnis tak terlepas dari peluang-peluang. Kami yakin anda tidak akan berani melangkah ke bisnis ini sebelum melihat peluang sebelumnya. Berikut disajikan beberapa alasan atau  penyebab <strong>peluang bisnis keripik sayur dan buah</strong>ini  cukup menjanjikan :</p>
<ol>
<li>Bahan baku buah dan sayur berlimpah, akibatnya harganya akan sangat murah.</li>
<li>Proses pembuatan dan pengelolaan bisnis sangat mudah. Bila anda memiliki mesin Vacuum Frying, maka anda akan mampu menjalankan produksi dengan cepat</li>
<li>Keuntungan yang besar dan dapat diperoleh dengan cepat. Modal bisa kembali kurang lebih 6 bulan (untuk mesin kapasitas 5 kg)</li>
<li>Buah disukai semua orang. Selama ini buah diawetkan dengan bahan pengawet. Dengan digoreng, akan menghasilkan buah yang awet namun tanpa bahan pengawet. Tentu saja orang akan semakin suka.</li>
<li>Pasar luas, anda bisa menjual kripik buah ini dimana saja. Anda bahkan bisa membentuk tim penjualan, mengumpulkan pedagang kaki lima dan asongan atau menitipkan produk anda di swalayan ataupun toko-toko makanan.</li>
<li>Peluang eksport terbuka. Sangat jarang dijumpai makanan kripik buah di luar negeri, karena kripik ini lebih awet, tentu memungkinkan untuk dikirim ke manca negara.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mesin Vacuum Frying</strong></p>
<p>Sudah siap untuk menjadi pengusaha kripik buah dan sayur? Maka sudah saatnya bagi anda untuk memiliki mesin vacuum frying. Mesin ini adalah mesin wajib yang harus anda miliki sebelum memulai bisnis kripik buah. Kami memiliki referensi untuk mendapatkan mesin tersebut, yaitu anda dapat mengunjungi  di http://anekamesin.com, dan andapun tak hanya mendapatkan sebuah mesin vacuum frying, namun anda juga memperoleh bonus sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pelatihan terpadu pengelolaan dan perawatan mesin vacuum frying.</li>
<li>Mesin spinner (peniris minyak, untuk mengurangi bahkan menghilangkan kadar minyak pada keripik sesudah digoreng)</li>
<li>Mesin pengemas, untuk mengemas keripik</li>
<li>Garansi service 1-2 tahun.</li>
</ol>
<p><strong>Tips Sukses</strong></p>
<p>Ada beberapa kunci sukses di bisnis keripik buah dan sayur, yaitu :</p>
<p><strong>1. Tampilan yang Menarik</strong></p>
<p>Tampilan keripik Anda harus menarik, bersih, tidak gosong. Hal ini bergantung pada :</p>
<ul>
<li>Pemilihan Bahan Yang Benar</li>
<li>Proses penggorengan yang benar</li>
<li>Menggunakan mesin vacuum frying berkualitas</li>
<li>Penyortiran dan quality control yang akurat</li>
</ul>
<p><strong>2. Kemasan Produk Anda Harus Profesional Dan Menarik</strong></p>
<p>Bisa saja anda menjual kripik dalam bentuk kiloan, tapi ini hanya untuk konsumsi agen-agen penjualan. Selain dalam bentuk kiloan, anda juga perlu menjual dalam bentuk kemasan yang rapi.</p>
<p>Label yang menarik juga akan memikat para pembeli. Untuk keperluan toko-toko, anda bisa menyertakan kontak pemesanan di label kripik. Hal ini perlu, karena pembeli yang tertarik bisa dengan mudah menghubungi anda untuk memesan produk serupa.</p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memilih kemasan transparant agar tampilan kripik yang sudah menarik ikut mengundang selera calon pembeli.</p>
<p>Kami juga menyarankan untuk menyertakan toples-toples besar transparat jika hendak menitipkan ke toko-toko kecil. Produk yang digantung-gantung menggunakan kawat akan terkesan murahan dan mudah hancur karena biasanya untuk mengambil satu kemasan harus meremas kemasan yang lain.</p>
<p><strong>3. Memilih Metode Pemasaran</strong></p>
<p>Anda bisa memasarkan kripik buah menggunakan cara-cara berikut :</p>
<ul>
<li>Membentuk agen penjualan yang akan memasarkan produk-produk anda ke toko-toko kecil, pedagang kaki lima dan pedagang asongan.</li>
<li>Bekerjasama dengan toko-toko makanan atau restaurant dengan menyuplai produk kripik anda.</li>
<li>Bekerjasama dengan katering-katering</li>
<li>Merintis peluang ekspor jika produk yang anda hasilkan cukup banyak.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=62&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/10/08/peluang-bisnis-kerupuk-buah-sayuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Banyaknya pengikut : BUKANLAH TOLAK UKUR KEBENARAN</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/19/banyaknya-pengikut-bukanlah-tolak-ukur-kebenaran/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/19/banyaknya-pengikut-bukanlah-tolak-ukur-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 05:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi haram]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mayoritas]]></category>
		<category><![CDATA[hukum partai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari .: :. Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas. Apa Itu Hukum Mayoritas ? Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=60&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari<br />
.:  :.<br />
Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.</p>
<p>Apa Itu Hukum Mayoritas ?<br />
Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun ternyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah .<br />
Sejauh manakah keabsahan hukum mayoritas ini? Untuk mengetahui jawabannya, perlu ditelusuri terlebih dahulu oknumnya (pengusungnya), yang dalam hal ini adalah manusia, baik tentang hakekat jati dirinya, sikapnya terhadap para rasul, atau pun keadaan mayoritas dari mereka, menurut kacamata syari’at. Karena dengan diketahui keadaan oknum mayoritas, maka akan diketahui pula sejauh mana keabsahan hukum tersebut.</p>
<p>Hakekat Jati Diri Manusia<br />
Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah yang menyatakan diri siap memikul “amanat berat” yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi dan gunung-gunung. Padahal makhluk yang bernama manusia ini berjati diri dzalum (amat zhalim) dan jahul (amat bodoh). Allah berfirman:<br />
إِِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاْلجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً<br />
“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzaab: 72)<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: ”Allah Ta’ala mengangkat permasalahan amanat yang Dia amanatkan kepada para mukallafiin, yaitu amanat menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan, baik dalam keadaan tampak maupun tidak tampak. Dia tawarkan amanat itu kepada makhluk-makhluk besar; langit, bumi dan gunung-gunung sebagai tawaran pilihan bukan keharusan, ”Bila engkau menjalankan dan melaksanakannya niscaya bagimu pahala, dan bila tidak, niscaya kamu akan dihukum.” Maka makhluk-makhluk itu pun enggan untuk memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya, bukan karena menentang Rabb mereka dan bukan pula karena tidak butuh terhadap pahala-Nya. Kemudian Allah tawarkan kepada manusia, maka ia pun siap menerima amanat itu dan siap memikulnya dengan segala kedzaliman dan kebodohan yang ada pada dirinya, maka amanat berat itu pun akhirnya dipikul olehnya” (Taisiirul Kariimir Rahman, hal. 620)<br />
Allah  Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana tidaklah membiarkan manusia mengarungi kehidupan dengan memikul amanat berat tanpa bimbingan Ilahi. Maka Dia pun mengutus para rasul sebagai pembimbing mereka dan menurunkan Kitab Suci agar berpegang teguh dengannya dan mengambil petunjuk darinya. Allah berfirman:<br />
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِاْلبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ اْلكِتَابَ وَاْلمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ<br />
“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab Suci dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadiid: 25)</p>
<p>Sikap Manusia Terhadap Para Rasul yang Membimbing Mereka<br />
Namun, demikianlah umat manusia… para rasul yang membimbing mereka itu justru ditentang, didustakan dan dihinakan.<br />
Allah berfirman:<br />
ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيْهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوْا فَأَخَذَهُمُ الله إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيْدُ الْعِقَابِ</p>
<p>“Yang demikian itu dikarenakan telah datang para rasul kepada mereka dengan membawa bukti-bukti nyata, lalu mereka kafir (menentang para rasul tersebut), maka Allah mengadzab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Dahsyat hukuman-Nya.”<br />
(Al-Mukmin: 22)</p>
<p>فَإِنْ كَذَّبُوْكَ فَقَدْ كُذّْبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ جَاءُوْا بِالْبَيّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ</p>
<p>“Jika mereka mendustakan kamu (Muhammad), maka sesungguhnya para rasul sebelummu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.&#8221; (Ali Imran: 184)</p>
<p>كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَاْلأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُوْ لِهِمْ لِيَأْخُذُوْهُ وَجَادَلُوْا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوْا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ</p>
<p>“Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul), dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya, dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu, oleh karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Al-Mukmin: 5)</p>
<p>وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَا كَانُوْا بِهِ يَسْتَهْزِءُوْنَ</p>
<p>“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan para rasul itu adzab atas apa yang selalu mereka perolok-olokkan.” (Al-Anbiyaa’: 41)</p>
<p>Bagaimanakah Keadaan Mayoritas Dari Mereka ?<br />
Bila kita merujuk kepada Al-Qur’anul Karim, maka kita akan dapati bahwa keadaan mayoritas umat manusia adalah:<br />
1. Tidak beriman<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi mayoritas manusia tidak beriman.” (Huud: 17)</p>
<p>2. Tidak bersyukur<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
إِنَّ الله لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسٍ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُوْنَ<br />
“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur.” (Al-Baqarah: 243)</p>
<p>3. Benci kepada kebenaran<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُوْنَ<br />
“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi mayoritas dari kalian membenci kebenaran itu.” (Az-Zukhruf: 78)<br />
4. Fasiq (keluar dari ketaatan)<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ<br />
“Dan sesungguhnya mayoritas manusia adalah orang-orang yang fasiq.”<br />
(Al-Maidah: 49)<br />
5. Lalai dari ayat-ayat Allah.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ ءَايتِنَا لَغَافِلُوْنَ<br />
“Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.”<br />
(Yunus: 92)<br />
6. Menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
وَإِنَّ كَثِيْرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ<br />
“Sesungguhnya mayoritas (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.” (Al-An’aam: 119)<br />
7. Tidak mengetahui agama yang lurus.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
ذلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ<br />
“Itulah agama yang lurus, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)<br />
8. Mengikuti persangkaan belaka.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ<br />
“Mereka (mayoritas manusia) tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’aam: 116)<br />
9. Penghuni Jahannam.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ<br />
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam mayoritas dari jin dan manusia.” (Al-A’raaf: 179)</p>
<p>Refleksi terhadap Hukum Mayoritas<br />
Dari apa yang telah lalu, akhirnya kita pun mengetahui bahwa ternyata oknum mayoritas tersebut (manusia) berjati diri amat dzalim dan amat bodoh, penentangannya terhadap para rasul yang membimbing mereka luar biasa, demikian pula mayoritas dari mereka tidak beriman, tidak bersyukur, benci kepada kebenaran, keluar dari ketaatan, lalai dari ayat-ayat Allah , menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu dan tanpa ilmu, tidak mengetahui agama yang lurus, mengikuti persangkaan belaka, dan penghuni Jahannam.<br />
Demikianlah kacamata syari’at memandang oknum mayoritas. Bila demikian kenyataannya, lalu bagaimana dengan hukum mayoritas itu sendiri???<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggolongkan hukum mayoritas ini ke dalam kaidah-kaidah yang dipegangi oleh orang-orang jahiliyyah, bahkan termasuk kaidah terbesar yang mereka punyai. Beliau berkata: “Sesungguhnya di antara kaidah terbesar mereka adalah berpegang dan terbuai dengan jumlah mayoritas, mereka menilai suatu kebenaran dengannya dan menilai suatu kebatilan dengan kelangkaannya dan dengan sedikitnya orang yang melakukan..(Kitab Masail Al-ahiliyyah, masalah ke-5).</p>
<p>Asy-syaikh Shalih bin Fauzan Al-auzan berkata: “Di antara masalah jahiliyyah adalah; bahwa mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas, sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah. Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:<br />
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ الله إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ<br />
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah  ).&#8221; (Al-An’aam: 116)<br />
Dia juga berfirman:<br />
وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ<br />
“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Al-A’raaf: 187)<br />
وَمَا وَجَدْنَا ِلأَ كْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقُوْنَ<br />
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’raaf: 102) Dan lain sebagainya.” (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hal. 60).<br />
Bila demikian hakekat permasalahannya, maka betapa ironisnya pernyataan para budak demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Suatu pernyataan sesat yang memposisikan suara rakyat (mayoritas) pada tingkat tertinggi yang tak akan pernah salah bak suara Tuhan. Mau dikemanakan firman-firman Allah di atas?! Yang lebih tragis lagi, orang-orang yang mengkampanyekan diri sebagai “partai islam”….., siang dan malam berteriak “tegakkan syari’at Islam!!”, namun sejak awal kampanyenya yang dibidik adalah suara terbanyak, tak mau tahu suara siapakah itu. Dan ketika duduk di kursi dewan, teriakannya pun hanya sampai pada kata “tegakkan” sedangkan kata “syari’at Islam” tak lagi terdengar. Jangankan menegakkan syari’at Islam, menampakkan syiar Islam pada dirinya saja masih harus mempertimbangkan sekian banyak pertimbangan.<br />
Terlebih lagi tatkala rapat dan sidang digelar, hasilnya pun berujung pada suara terbanyak. Tak mau tahu, suara siapakah itu….. tak mau peduli, apakah sesuai dengan syariat Islam ataukah justru menguburnya….. tak mau pusing, apakah menguntungkan umat Islam ataukah justru menelantarkannya. Dan ketika hasil sidang tersebut diprotes karena tak selaras dengan syari’at Islam, maka dia pun orang yang pertama kali berkomentar bahwa ini adalah suara mayoritas anggota dewan….., kita harus mempunyai sikap toleransi yang tinggi….., kita harus menjunjung tinggi demokrasi, dan lain sebagainya. Padahal kalau dia belum duduk di kursi dewan, barangkali dialah orang pertama yang menggelar demo1 dengan berbagai macam atribut dan spanduknya. Wallahul Musta’an.<br />
Demikianlah bila hukum mayoritas dikultuskan. Kesudahannya, akan semakin jauh dari hukum Allah, akan semakin buta tentang syari’at Islam, bahkan akan menjadi penentang terhadap hukum Allah dan syari’at-Nya.</p>
<p>Para pembaca yang dirahmati Allah….. sesungguhnya masih ada fenomena lain yang perlu untuk direfleksi, yaitu dijadikannya hukum mayoritas sebagai tolak ukur suatu dakwah. Apabila seorang da’i mempunyai banyak pengikut, ceramahnya diputar di seluruh radio nusantara dan akhirnya bergelar “da’i sejuta umat” maka dakwahnya pun pasti benar. Sebaliknya bila seorang da’i pengikutnya hanya sedikit, maka dakwahnya pun dicurigai, bahkan terkadang divonis sesat. Padahal Allah telah berfirman tentang Nabi Nuh :<br />
وَمَاءَامَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيْلٌ<br />
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Huud: 40)<br />
Rasulullah bersabda:<br />
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ &#8230;..<br />
“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….” (HR. Al Bukhari no: 5705, 5752, dan Muslim no:220, dari hadits Abdullah bin Abbas).<br />
Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alus Syaikh berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang berdalih dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah demikian adanya, bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja”.<br />
(Taisir Al-‘Azizil Hamid, hal.106).</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Tidak boleh tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang di atas kesesatan, Allah berfirman:<br />
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ الله إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ<br />
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah ).”<br />
(Al-An’aam: 116)</p>
<p>Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan, maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan: “Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku eksklusif tidak sama dengan mereka?” (Al-Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid, Juz 1 hal. 106)</p>
<p>Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Maka tolak ukurnya bukanlah banyaknya pengikut suatu madzhab atau perkataan, namun tolak ukurnya adalah benar ataukah batil. Selama ia benar walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya, maka itulah yang harus dipegang (diikuti), karena ia adalah keselamatan. Dan selamanya sesuatu yang batil tidaklah terdukung (menjadi benar-pen) dikarenakan banyaknya orang yang mengikutinya. Inilah tolak ukur yang harus selalu dipegangi oleh setiap muslim.” Beliau juga berkata: “Maka tolak ukurnya bukanlah banyak (mayoritas) atau pun sedikit (minoritas), bahkan tolak ukurnya adalah al haq (kebenaran), barangsiapa di atas kebenaran- walaupun sendirian- maka ia benar dan wajib diikuti, dan jika mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan maka wajib ditolak dan tidak boleh tertipu dengannya. Jadi tolak ukurnya adalah kebenaran, oleh karena itu para ulama berkata: “Kebenaran tidaklah dinilai dengan orang, namun oranglah yang dinilai dengan kebenaran. Barangsiapa di atas kebenaran maka ia wajib diikuti”. (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hal.61)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus Syaikh berkata: “Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (mengikuti mayoritas manusia -pen) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya”. (Qurratu Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq Kitab Fathul Majid, hal. 83, no. 1)<br />
Bagaimanakah jika mayoritas berada di atas kebenaran?<br />
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik. Akan tetapi sunnatulloh menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.<br />
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ<br />
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya” (Yusuf: 103)<br />
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ<br />
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Al-An’aam: 116).” (Syarh Masail Al-Jahiliyyah, hal.62).</p>
<p>Penutup<br />
Dari pembahasan yang telah lalu, dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya hukum mayoritas bukan dari syari’at Islam, sehingga ia tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur suatu dakwah, manhaj dan perkataan. Tolak ukur yang hakiki adalah kebenaran yang dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafus-Shalih.<br />
Atas dasar ini maka sistem demokrasi yang menuhankan suara mayoritas adalah batil. Demikian pula sikap mengukur benar atau tidaknya suatu dakwah, manhaj dan perkataan dengan hukum mayoritas, merupakan perbuatan batil dan bukan dari syari’at Islam.<br />
Wallahu A’lam Bish Shawab.</p>
<p>(Dikutip dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=764)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=60&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/19/banyaknya-pengikut-bukanlah-tolak-ukur-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaidah Jitu Agar Sukses Menghafal Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/18/kaidah-jitu-agar-sukses-menghafal-al-quran/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/18/kaidah-jitu-agar-sukses-menghafal-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 22:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang terjaga dari bermacam perubahan. Sebagai buktinya Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang mudah dihafal bagi mereka yang berusaha. Namun sebagian dari kita yang berminat menghafal Al-Qur’an terkadang menemui kendala dalam usahanya, sehingga putus asa dan meninggalkannya. Hal ini bisa disebabkan azam yang kurang kuat atau menghafal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=57&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang terjaga dari bermacam perubahan. Sebagai buktinya Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang mudah dihafal bagi mereka yang berusaha. Namun sebagian dari kita yang berminat menghafal Al-Qur’an terkadang menemui kendala dalam usahanya, sehingga putus asa dan meninggalkannya. Hal ini bisa disebabkan azam yang kurang kuat atau menghafal Al-Qur’an secara asal-asalan alias tidak menggunakan strategi dan teknik yang benar.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa teknik atau kaidah yang insya Allah bisa memudahkan proses hafalan kita:</p>
<p>1. Ikhlas karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Hendaklah kita ikhlas dalam menghafal karena menjalankan perintah Allah Ta’ala dan mengharapkan pahala dan keridhaan-Nya. Janganlah menghafal Al-Qur&#8217;an dengan tujuan supaya dikatakan ustadz yang hafizh dan alim tentang Al-Qur’an.</p>
<p>Niat adalah masalah yang paling penting, karena terkadang di pertengahan jalan kita mulai merasa jenuh dan putus asa, maka ketika itulah kita selalu memperbaharui niat kita. Niatkan selalu karena Allah Ta’ala.</p>
<p>2. Membetulkan lafal dan bacaan sebelum menghafal.</p>
<p>Ini sangat penting karena dengan pelafalan dan bacaan yang benar apalagi disertai hukum tajwid yang benar akan membantu kita dalam proses menghafal di mana satu ayat dengan sesudahnya selalu dihubungkan dengan hukum tajwid. Begitu juga kalau kita terbiasa menghafal dengan lafal yang salah, maka akan lebih sulit membetulkannya setelah itu.</p>
<p>Oleh karena itu jangan sekali-kali mulai menghafal sebelum kita membaca ayat tersebut sampai berkali-kali bahkan mungkin sampai sepuluh kali.</p>
<p>Membetulkan lafal dan bacaan tidak bisa dilakukan kecuali dengan mendengarkan bacaan Qari yang bagus atau hafizh yang ahli (bisa juga dengan mendengarkan serial murattal).</p>
<p>3.  Menentukan target hafalan setiap pekan.</p>
<p>Kenapa setiap pekan, tidak setiap hari atau bulan? Ini karena target setiap hari terlalu singkat, di mana tidak setiap hari kita mempunyai kesungguhan dan kesiapan yang sama, adapun perbulan dirasakan terlalu lama sehingga dikhawatirkan akan cepat membosankan.</p>
<p>Adapun target per-pekan apabila dalam satu hari kita tidak memiliki kesiapan yang sempurna, maka bisa dijangkau pada hari lain dalam sepekan tersebut.</p>
<p>Hal ini bisa dengan cara memilih satu halaman atau seperempat hizib (dua setengah halaman dengan Al-Qur’an cetakan timur tengah).</p>
<p>4. Jangan melampaui target yang telah ditentukan.</p>
<p>Jangan melampaui target sepekanmu sampai kamu betul-betul menguasai target tersebut dengan sempurna, karena sebagian terlalu bersemangat sehingga melampaui targetnya. Hal ini dapat mengurangi kualitas hafalan serta cepat membosankannya. Yang penting istiqamah walaupun sedikit.</p>
<p>5. Konsisten menghafal dengan satu mushaf.</p>
<p>Konsistenlah dengan satu mushaf jangan menggantinya dengan yang lain karena seseorang menghafal Al-Qur’an dengan cara melihat sebagaimana dengan cara mendengar. Kita mendapati orang yang terbiasa dengan satu Al-Qur’an lalu menggantinya dengan yang lain maka dia mendapati kesulitan.</p>
<p>6. “Memahami” merupakan cara menghafal.</p>
<p>Usahakan untuk memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan mengetahui bentuk keterikatan sebagian ayat dengan yang lain seperti ayat-ayat yang berisi kisah dan cerita karena hal ini akan mempermudah proses hafalan. Bisa kita merujuk kitab ”zubdatut tafsir ”.</p>
<p>7. Menghubungkan antara awal dan akhir target hafalan.</p>
<p>Janganlah melewati target hafalanmu sampai  bisa menghubungkan antara awal dan akhir hafalan. Tidak sepatutnya seorang yang menghafal untuk berpindah ke surat yang lain hingga dia menyempurnakan hafalannya dengan baik, yaitu dengan menghubungkan awal surat dan akhirnya (atau ketika dia menghafal seperempat hizib dengan menambahkan seperempat hizib yang sesudahnya demikian seterusnya).</p>
<p>8. Selalu muraja’ah dan memperdengarkan hafalan kepada orang lain.</p>
<p>Ini karena jika kita muraja’ah sendiri biasanya akan selalu bergantung kepada mushaf yang ada di hadapan kita, setiap kali salah atau lupa kita mudah untuk membukanya, tidak berusaha mengingatnya sendiri, tapi dengan orang lain akan mengurangi kebiasaan tersebut.</p>
<p>9. Selalu memperhatikan ayat-ayat yang mutasyabihat mirip-mirip.</p>
<p>Hal ini disebabkan kita biasa salah ketika menghadapi ayat-ayat ini dan keliru dengan ayat lain. Seperti dalam Al-Qur&#8217;an surat Az-Zumar 52:</p>
<p>Dengan surat Ar-Rum 37:</p>
<p>Demikian juga dengan Al-Qur&#8217;an surat Az-Zumar 48:</p>
<p>dengan surat Al-Jatsiyah 33:</p>
<p>10. Manfaatkan dengan baik masa-masa usia emasmu!</p>
<p>Orang yang benar-benar diberi taufik oleh Allah adalah yang benar-benar memanfaatkan masa-masa usia emas dari umur lima tahun hingga dua puluh tiga tahun kira-kira , karena pada masa-masa ini manusia memiliki ingatan yang baik.</p>
<p>11. Selalu mendengarkan serial murattal Al-Qur’an.</p>
<p>Lakukan hal ini sesering mungkin sebelum tidur demikian juga setelah bangun sebagai disebutkan dalam beberapa penelitian karena ini sangat membantu hafalan.</p>
<p>12. Bacalah hafalanmu di dalam shalatmu terutama shalat sunnah dan tahajud.</p>
<p>13. Cobalah mengulangi hafalan dengan berbagai kondisi!</p>
<p>Mengulangi hafalan seperti dengan berdiri, berjalan dan naik kendaraan, selama tidak mengganggu konsentrasi. Hal ini sangat membantu kekuatan hafalan kita, karena terkadang kita dalam keadaan duduk kita hafal dengan baik, tetapi dalam keadaan berdiri atau berjalan kita sering lupa, berarti kita belum menghafalnya dengan baik seperti menghafal Al-Fatihah.</p>
<p>14. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal.</p>
<p>Usahakan untuk hafalan baru gunakan waktu setelah bangun tidur karena di waktu tersebut pikiran kita sedang segar dan bersih.</p>
<p>Jangan menghafal Al-Qur&#8217;an ketika kita sedang tidak ada semangat karena kurang efektif, seperti dalam keadaan memiliki masalah atau sangat letih. Dalam keadaan seperti ini ada baiknya anda hanya mengulang-ngulang hafalan yang telah dimiliki.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=57&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/09/18/kaidah-jitu-agar-sukses-menghafal-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membongkar kesesatan Syi&#8217;ah : Taqiyyah</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/membongkar-kesesatan-syiah-taqiyyah/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/membongkar-kesesatan-syiah-taqiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 21:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka. Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak kaum muslimin. Maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti: &#8220;Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin, Negara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=55&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka. Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak kaum muslimin.</p>
<p>Maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti: &#8220;Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin, Negara Iran yang resmi berasaskan aqidah Syi’ah Ja’fariyah (bagian dari sekte Syi’ah Rafidhah) adalah negara Islam, Khomeini merupakan tokoh revolusi Islam Iran, gagasan untuk diadakan taqrib (persatuan pandangan) antara Syi’ah dan Sunni (Ahlus Sunnah), anggapan bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi telah kafir, Al Qur’an telah mengalami perubahan hanyalah sekedar tuduhan Ahlus Sunnah semata&#8221;.</p>
<p>Definisi Taqiyyah<br />
Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Menyembunyikan dan menjaga. (Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731)</p>
<p>Sedangkan secara terminologi syariat, taqiyyah memiliki arti: Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. (Disarikan dari Atsarut Tasyayyu’ hal 33 &#8211; 34)</p>
<p>Taqiyyah Menurut Tinjauan Syariat Islam</p>
<p>Islam sebagai agama yang sempurna dan penuh rahmat telah mengatur hubungan penganutnya dengan orang-orang kafir yang zhalim dan menguasai kehidupan keagamaan kaum muslimin. Pada saat yang sama, Islam juga sangat memperhatikan kelangsungan hidup para pemeluknya.</p>
<p>Dalam rangka mencapai dua keadaan itu, Islam memberikan salah satu solusi kepada umatnya berupa taqiyyah berdasarkan bimbingan dalil-dalil syar’i. Di dalam dalil–dalil tersebut terdapat kriteria-kriteria yang membolehkan seorang muslim melakukan taqiyyah. Kriteria-kriteria tersebut adalah:<br />
1. Dia tidak mampu melakukan hijrah syar’i dari negeri orang kafir yang dia tinggal di dalamnya, karena alasan (udzur) yang syar’i pula. (An Nisaa’: 97-98)<br />
2. Taqiyyah dilakukan dihadapan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)<br />
3. Taqiyyah ditempuh karena dia benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan atau mengerjakan kekufuran. (An Nahl: 106)<br />
4. Bersamaan itu, dia benar-benar merasa ketakutan dari kejahatan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)<br />
5. Walaupun demikian, hatinya tetap tenang dan kokoh diatas keimanan. (An Nahl: 106)</p>
<p>Taqiyyah Menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah</p>
<p>Atas dasar riwayat-riwayat batil yang ada pada mereka, maka dapat dipastikan bahwa mereka telah berbuat 3 kesalahan fatal:<br />
A. Definisi Taqiyyah Yang Bertentangan Dengan Definisi Taqiyyah Secara Syar’i<br />
Di dalam Al Kasykul 1/202 karya Yusuf Al Bahrani mengatakan: “ Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kesamaan dengan keyakinan agama orang-orang yang menyelisihi mereka karena adanya rasa takut.”</p>
<p>Al Kulaini meriwayatkan -dengan dusta- dari Abu Ja’far, beliau berkata: “Berkumpullah dengan mereka (orang-orang yang menyelisihi Syi’ah Rafidhah -red) secara dhahir namun selisihilah mereka secara batin”.</p>
<p>Al Khomeini di dalam Kasyful Asrar hal. 147 mendefinisikan makna taqiyyah: “Seseorang yang mengucapkan atau mengamalkan sesuatu, berbeda dengan kenyataan (hatinya) yang membatalkan timbangan-timbangan syariat …”.</p>
<p>Tampak dari ucapan-ucapan mereka bahwa definisi taqiyyah menurut Syi’ah Rafidhah:<br />
1. Tidak membedakan apakah taqiyyah mereka amalkan dihadapan kaum muslimin atau orang-orang kafir. Lalu apa bedanya mereka dengan orang-orang munafik di jaman Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wassallam ?!.<br />
2. Apa yang mereka sembunyikan bukanlah keimanan namun justru kekufuran tatkala berkumpul dengan kaum muslimin.<br />
3. Taqiyyah mereka tidak memperhatikan timbangan-timbangan atau kriteria-kriteria syar’i.</p>
<p>B. Kedudukan dan Keutamaan Taqiyyah yang Berlebihan Menurut Syi’ah Rafidhah<br />
1. Taqiyyah adalah pokok agama mereka.<br />
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/174 menukilkan –dengan dusta- ucapan Abu Ja’far: “Taqiyyah merupakan agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak ada keimanan bagi seseorang yang tidak bertaqiyyah”. Dalam riwayat lain -dengan dusta- dari Abu Abdillah: “Tidak ada agama bagi seorang yang tidak bertaqiyyah”.<br />
2. Taqiyyah adalah kemuliaan agama seseorang.<br />
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/176 meriwayatkan –dengan dusta- ucapan Abu Abdillah kepada Sulaiman bin Khalid: “Wahai Sulaiman, sesungguhnya engkau diatas agama yang apabila seseorang menyembunyikannya (bertaqiyyah), maka Allah akan muliakan dia. Barangsiapa menampakkannya maka Allah akan hinakan dia”.<br />
3. Taqiyyah merupakan sebuah ibadah yang paling dicintai Allah<br />
Abu Abdillah mengatakan di dalam Al Kafi 2/219 karya Al Kulaini –dengan dusta- : “Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amalan yang lebih Dia cintai daripada Al Khab’u. Aku (periwayat) bertanya: “Apa itu Al Khab’u ? Beliau menjawab: “Taqiyyah”.<br />
4. Taqiyyah merupakan seutama-utama amalan hamba.<br />
Di dalam Tafsirul Askari hal. 163 dinukilkan -dengan dusta- bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Taqiyyah merupakan salah satu amalan mukmin yang paling utama. Dia menjaga diri dan saudaranya dengan taqiyyah dari orang-orang jahat (kaum muslimin -red).<br />
5. Taqiyyah merupakan semulia-mulia akhlak.<br />
Dari Al Baqir, dia berkata: “Semulia-mulia akhlak para imam dan orang-orang mulia dari kelompok kami adalah taqiyyah”. (Al Ushul Ashliyah hal. 320 karya Abdullah Syabbar)<br />
6. Hukum taqiyyah setingkat tauhid dan shalat wajib<br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka kedudukannya seperti meninggalkan shalat wajib.”<br />
Dia meriwayatkan didalam kitab tersebut dari Ali bin Hasan –dengan dusta– beliau berkata: “Allah mengampuni seluruh dosa seorang mukmin dan mensucikannya di dunia dan akhirat kecuali 2 dosa: meninggalkan taqiyyah dan meninggalkan hak-hak saudaranya (saudara sesama Syi’ah Rafidhah –red).”<br />
7. Mereka membatasi kewajiban bertaqiyyah sampai munculnya Imam Mahdi<br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat juga mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib. Tidak boleh menghapus kewajiban itu sampai muculnya Imam Mahdi&#8230;”.</p>
<p>C. Munculnya Amalan-Amalan Kemungkaran Sebagai Realisasi Pandangan Sesat Mereka Terhadap Taqiyyah</p>
<p>1. Pengkafiran kaum muslimin yang tidak melakukan taqiyyah ala Syi’ah Rafidhah<br />
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat ketika menyebutkan tentang kewajiban taqiyyah, mengatakan: “&#8230; Barangsiapa meninggalkan (taqiyyah) sebelum munculnya Imam Mahdi maka dia telah keluar dari agama Allah, agama Imamiyyah dan menyelisihi Allah, Rasul serta para imam mereka.”<br />
2. Pembolehan untuk melakukan taqiyyah didalam segala keadaan walaupun dalam keadaan tidak terpaksa<br />
Ath Thusi meriwayatkan –dengan dusta– di dalam Al Amaali hal. 229 dari Ash Shadiq, beliau berkata: “Bukanlah dari golongan kami, seseorang yang tidak menjadikan taqiyyah sebagai syiar dan bajunya walaupun ditengah orang-orang yang dia percayai. Hal itu tetap dia lakukan agar selalu menjadi tabiatnya ketika ditengah orang-orang yang mengancamnya.”<br />
3. Ibadah yang diiringi dengan taqiyyah memiliki keutamaan besar<br />
Ash Shaduq di dalam Man Laa Yahdhuruhul Faqih 1/266 meriwayatkan –dengan dusta– dari Abu Abdillah, berkata: “Tidaklah salah seorang diantara kalian menunaikan shalat wajib sesuai waktunya lalu shalat lagi dengan taqiyyah bersama mereka (kaum muslimin) dalam keadaan berwudlu’ kecuali Allah tulis (keutamaan) baginya sebesar 25 derajat. Oleh karena itu berharaplah kalian untuk mendapatkannya.”<br />
4. Riwayat-riwayat para Imam mereka yang bertolak belakang dengan aqidah mereka dianggap sebagai taqiyyah (diringkas dari Firaqusy Syi’ah hal. 85-87 karya An Naubakhti)<br />
5. Penafsiran yang batil terhadap ayat-ayat Allah Ta&#8217;ala<br />
Surat Fushshilat 34 :<br />
وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ<br />
yang artinya: “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejelekan. Balaslah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik.”<br />
Abu Abdillah berkata: “Kebaikan itu adalah taqiyyah, sedangkan kejelekan itu adalah terang-terangan di dalam beragama.” (Al Kafi 2/173 karya Al Kulaini)</p>
<p>Sedangkan ‘cara yang lebih baik’ itu adalah taqiyyah. (Al Kafi hal. 482 karya Al Kulaini)</p>
<p>Surat Al Hujurat 13 :<br />
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ<br />
yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling taqwa.”</p>
<p>Ash Shadiq &#8211; seorang syi&#8217;i &#8211; berkata: “Yaitu orang-orang yang paling mengetahui tentang taqiyyah.” (Al I’tiqadaat karya Al Qummi)</p>
<p>Aqidah Taqiyyah Merupakan Ciri Khas Syi’ah Rafidhah</p>
<p>Di dalam Al I’tiqadaat karya Al Qummi diriwayatkan –dengan dusta– dari Ali bin Husain, beliau berkata: “Kalau seandainya tidak ada taqiyyah maka wali-wali kami tidak akan dikenal diantara musuh-musuh kami.”</p>
<p>Hakekat Taqiyyah Syi’ah Rafidhah Sama Dengan Kemunafikan</p>
<p>Sangat tepat untuk dinyatakan bahwa hakekat taqiyyah mereka tidaklah beda dengan kemunafikan di masa kenabian Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wassallam. Padahal Allah Ta&#8217;ala banyak memperingatkan sifat-sifat mereka (kaum munafik) di dalam kitab-Nya, diantaranya:<br />
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ<br />
Artinya : “Dan jika mereka (kaum munafik) bertemu dengan orang-orang beriman mereka berkata: ‘Kami beriman.’ Namun bila mereka bertemu dengan para syaithan, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanyalah mengejek mereka (kaum muslimin).” (Al Baqarah: 14)</p>
<p>Allah juga berfirman :<br />
قُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ<br />
yang artinya: “Mereka (orang-orang munafik) mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya.” (Al Fath: 11)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wassallam mengingatkan tentang keadaan mereka:<br />
“Dan kalian akan dapati sejelek-jelek manusia adalah yang bermuka dua, yaitu dia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Ahli Bait Berlepas Diri Dari Taqiyyah</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Minhajus Sunnah 2/46 menyebutkan bahwa Allah membersihkan kaum mukminin dari kalangan Ahli Bait dari perbuatan taqiyyah. Bahkan mereka merupakan manusia paling jujur dalam keimanan. Agama mereka adalah ketaqwaan dan bukan taqiyyah.</p>
<p><a href="http://salafy.or.id" target="_blank">www.salafy.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=55&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/membongkar-kesesatan-syiah-taqiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat An-Nisa`, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/surat-an-nisa-satu-bukti-islam-memuliakan-wanita/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/surat-an-nisa-satu-bukti-islam-memuliakan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 15:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah Sumber: www.asysyariah.com Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang ‘bias jender’. Benarkah? Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=52&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</div>
<div>Sumber: <a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=617" target="_blank">www.asysyariah.com</a></div>
<p>Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang ‘bias jender’. Benarkah?</p>
<p>Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak bukti yang menunjukkan kenyataan ini. Sampai-sampai ada satu surah dalam Al-Qur`anul Karim dinamakan surah An-Nisa`, artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain. (Mahasinut Ta`wil, 3/6)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang berbicara tentang wanita.</p>
<p>1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.</p>
<p>Surah An-Nisa` dibuka dengan ayat:</p>
<p>يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً</p>
<p>“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)</p>
<p>Ayat ini merupakan bagian dari khutbatul hajah yang dijadikan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai pembuka khutbah-khutbah beliau. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid rahimahumallah mengatakan bahwa yang dimaksud jiwa yang satu adalah Nabi Adam &#8216;alaihissalam. Sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566)</p>
<p>Dalam hadits shahih disebutkan:</p>
<p>إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ</p>
<p>“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil dari ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ dan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menerangkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. Di samping juga menunjukkan dibencinya mentalak mereka tanpa sebab dan juga tidak bisa seseorang berambisi agar si wanita terus lurus. Wallahu a’lam.”(Al-Minhaj, 9/299)</p>
<p>2. Dijaganya hak perempuan yatim.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُوا</p>
<p>“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk kalian tidak berlaku aniaya.” (An-Nisa`: 3)</p>
<p>Urwah bin Az-Zubair pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu &#8216;anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى maka Aisyah radhiyallahu &#8216;anha menjawab, “Wahai anak saudariku1. Perempuan yatim tersebut berada dalam asuhan walinya yang turut berserikat dalam harta walinya, dan si wali ini ternyata tertarik dengan kecantikan si yatim berikut hartanya. Maka si wali ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam pemberian maharnya sebagaimana mahar yang diberikannya kepada wanita lain yang ingin dinikahinya. Para wali pun dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim terkecuali bila mereka mau berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim serta memberinya mahar yang sesuai dengan yang biasa diberikan kepada wanita lain. Para wali kemudian diperintah untuk menikahi wanita-wanita lain yang mereka senangi.” Urwah berkata, “Aisyah menyatakan, ‘Setelah turunnya ayat ini, orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang perkara wanita, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan ayat:</p>
<p>وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ</p>
<p>“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita.” (An-Nisa`: 127)</p>
<p>Aisyah radhiyallahu &#8216;anha berkata, “Dan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam ayat yang lain:</p>
<p>وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ</p>
<p>“Sementara kalian ingin menikahi mereka (perempuan yatim).” (An-Nisa`: 127)</p>
<p>Salah seorang dari kalian (yang menjadi wali/pengasuh perempuan yatim) tidak suka menikahi perempuan yatim tersebut karena si perempuan tidak cantik dan hartanya sedikit. Maka mereka (para wali) dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka sukai harta dan kecantikannya kecuali bila mereka mau berbuat adil (dalam masalah mahar, pent.). Karena keadaan jadi terbalik bila si yatim sedikit hartanya dan tidak cantik, walinya enggan/tidak ingin menikahinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4574 dan Muslim no. 7444)</p>
<p>Masih dalam hadits Aisyah radhiyallahu &#8216;anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ</p>
<p>Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang mereka dan apa yang dibacakan kepada kalian dalam Al-Qur`an tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberi mereka apa yang ditetapkan untuk mereka sementara kalian ingin menikahi mereka.” (An-Nisa`: 127)</p>
<p>Aisyah radhiyallahu &#8216;anha berkata:</p>
<p>أُنْزِلَتْ فِي الْيَتِيْمَةِ، تَكُوْنُ عِنْدَ الرَّجُلِ فَتَشْرِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيَرْغَبُ عَنْهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا وَيَكْرَهُ أَنْ يُزَوِّجَهَا غَيْرَهُ، فَيَشْرَكُهُ فِي ماَلِهِ، فَيَعْضِلُهَا، فَلاَ يَتَزَوَّجُهَا وَيُزَوِّجُهَا غَيْرَهُ.</p>
<p>“Ayat ini turun tentang perempuan yatim yang berada dalam perwalian seorang lelaki, di mana si yatim turut berserikat dalam harta walinya. Si wali ini tidak suka menikahi si yatim dan juga tidak suka menikahkannya dengan lelaki yang lain, hingga suami si yatim kelak ikut berserikat dalam hartanya. Pada akhirnya, si wali menahan si yatim untuk menikah, ia tidak mau menikahinya dan enggan pula menikahkannya dengan lelaki selainnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5131 dan Muslim no. 7447)</p>
<p>3. Cukup menikahi seorang wanita saja bila khawatir tidak dapat berlaku adil secara lahiriah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ</p>
<p>“Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki.” (An-Nisa`: 3)</p>
<p>Yang dimaksud dengan adil di sini adalah dalam perkara lahiriah seperti adil dalam pemberian nafkah, tempat tinggal, dan giliran. Adapun dalam perkara batin seperti rasa cinta dan kecenderungan hati tidaklah dituntut untuk adil, karena hal ini di luar kesanggupan seorang hamba. Dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:</p>
<p>وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ</p>
<p>“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang kalian cintai sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” (An-Nisa`: 129)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas, “Maksudnya, kalian wahai manusia, tidak akan mampu berlaku sama di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Karena walaupun bisa terjadi pembagian giliran malam per malam, namun mesti ada perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma, ‘Abidah As-Salmani, Mujahid, Al-Hasan Al-Bashri, dan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahumullah.”</p>
<p>Setelah menyebutkan sejumlah kalimat, Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan pada tafsir ayat: فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ maksudnya apabila kalian cenderung kepada salah seorang dari istri kalian, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cenderung secara total padanya, فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ “sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” Maksudnya istri yang lain menjadi terkatung-katung. Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Adh Dhahhak, Ar-Rabi` bin Anas, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan, “Makna كَالْمُعَلَّقَةِ, seperti tidak punya suami dan tidak pula ditalak.” (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 2/317)</p>
<p>Bila seorang lelaki khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita. Dan ini termasuk pemuliaan pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya diperhatikan oleh Islam.</p>
<p>4. Hak memperoleh mahar dalam pernikahan.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَءَاتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا</p>
<p>“Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)</p>
<p>5. Wanita diberikan bagian dari harta warisan.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا</p>
<p>“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7)</p>
<p>Sementara di zaman jahiliah, yang mendapatkan warisan hanya lelaki, sementara wanita tidak mendapatkan bagian. Malah wanita teranggap bagian dari barang yang diwarisi, sebagaimana dalam ayat:</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi wanita dengan jalan paksa.” (An-Nisa`: 19)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma menyebutkan, “Dulunya bila seorang lelaki di kalangan mereka meninggal, maka para ahli warisnya berhak mewarisi istrinya. Jika sebagian ahli waris itu mau, ia nikahi wanita tersebut dan kalau mereka mau, mereka nikahkan dengan lelaki lain. Kalau mau juga, mereka tidak menikahkannya dengan siapa pun dan mereka lebih berhak terhadap si wanita daripada keluarga wanita itu sendiri. Maka turunlah ayat ini dalam permasalahan tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4579)</p>
<p>Maksud dari ayat ini, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah, adalah untuk menghilangkan apa yang dulunya biasa dilakukan orang-orang jahiliah dari mereka dan agar wanita tidak dijadikan seperti harta yang diwariskan sebagaimana diwarisinya harta benda. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/63)</p>
<p>Bila ada yang mempermasalahkan, kenapa wanita hanya mendapatkan separuh dari bagian laki-laki seperti tersebut dalam ayat:</p>
<p>يُوصِيكُمُ اللهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ</p>
<p>“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang pembagian warisan untuk anak-anak kalian, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….” (An-Nisa`: 11)</p>
<p>Maka dijawab, inilah keadilan yang sesungguhnya. Laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita karena laki-laki butuh bekal yang lebih guna memberikan nafkah kepada orang yang di bawah tanggungannya. Laki-laki banyak mendapatkan beban. Ia yang memberikan mahar dalam pernikahan dan ia yang harus mencari penghidupan/penghasilan, sehingga pantas sekali bila ia mendapatkan dua kali lipat daripada bagian wanita. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/160)</p>
<p>6. Suami diperintah untuk berlaku baik pada istrinya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman dalam hal ini:</p>
<p>وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p>“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:</p>
<p>خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ</p>
<p>“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.”2 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/173)</p>
<p>7. Suami tidak boleh membenci istrinya dan tetap harus berlaku baik terhadap istrinya walaupun dalam keadaan tidak menyukainya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا</p>
<p>“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)</p>
<p>Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (5/65), Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka disenangi (dianjurkan) (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut.”</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma tentang ayat ini: ‘Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berikan rizki kepadanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)</p>
<p>Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p>“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya. Karena bila ia menemukan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai, namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misalnya istrinya tidak baik perilakunya, tetapi ia seorang yang beragama, atau berparas cantik, atau menjaga kehormatan diri, atau bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang semisalnya.” (Al-Minhaj, 10/58)</p>
<p>8. Bila seorang suami bercerai dengan istrinya, ia tidak boleh meminta kembali mahar yang pernah diberikannya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا</p>
<p>“Dan jika kalian ingin mengganti istri kalian dengan istri yang lain sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari harta tersebut. Apakah kalian akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa`: 20-21)</p>
<p>9. Termasuk pemuliaan terhadap wanita adalah diharamkan bagi mahram si wanita karena nasab ataupun karena penyusuan untuk menikahinya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ</p>
<p>“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/ saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/ saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri. Tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu)…” (An-Nisa`: 23)</p>
<p>Diharamkannya wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat di atas untuk dinikahi oleh lelaki yang merupakan mahramnya, tentu memiliki hikmah yang agung, tujuan yang tinggi yang sesuai dengan fithrah insaniah. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)</p>
<p>Di akhir ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p>“(Diharamkan atas kalian) menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa`: 23)</p>
<p>Ayat di atas menetapkan bahwa seorang lelaki tidak boleh mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam ikatan pernikahan karena hal ini jelas akan mengakibatkan permusuhan dan pecahnya hubungan di antara keduanya. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)</p>
<p>Demikian beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang menyinggung tentang wanita. Apa yang kami sebutkan di atas bukanlah membatasi, namun karena tidak cukupnya ruang, sementara hanya demikian yang dapat kami persembahkan untuk pembaca yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala-lah yang memberi taufik.</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>
<p>1 Karena ibu ‘Urwah, Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu &#8216;anhuma adalah saudara perempuan Aisyah radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p>2 HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=52&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/06/22/surat-an-nisa-satu-bukti-islam-memuliakan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prosesor Netbook Generasi Baru Mulai Hadir Januari 2010</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/11/prosesor-netbook-generasi-baru-mulai-hadir-januari-2010/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/11/prosesor-netbook-generasi-baru-mulai-hadir-januari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 03:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[berita teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[netbook murah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Intel telah resmi memperkenalkan jajaran terbaru prosesor Atom dengan kemampuan grafis yang terintegrasi di dalamnya. Platform dengan nama kode Pine Trail tersebut bakal hadir mulai bulan Januari 2010. Pine Trail merupakan nama kode untuk prosesor anyar dari Intel yang dirancang untuk menangani berbagai aplikasi ringan komputer. Generasi terbaru dari Intel Atom itu pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=48&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><img class="alignleft" src="http://www.detikinet.com/images/content/2009/12/21/317/intelpinetrailatom285.jpg" alt="" width="285" height="200" />Jakarta</strong> &#8211; 	Intel telah resmi memperkenalkan jajaran terbaru prosesor Atom dengan kemampuan grafis yang terintegrasi di dalamnya. <em>Platform</em> dengan nama kode Pine Trail tersebut bakal hadir mulai bulan Januari 2010.</p>
<p>Pine Trail merupakan nama kode untuk prosesor anyar dari Intel yang dirancang untuk menangani berbagai aplikasi ringan komputer. Generasi terbaru dari Intel Atom itu pun segera hadir dengan disematkan beberapa pembaharuan.</p>
<p>Platform Intel terbaru ini menggunakan prosesor Intel® Atom™, N450, dan Intel® NM10 Express Chipset untuk netbook. Sedangkan untuk desktop PC tingkat dasar menggunakan antara prosesor Intel® Atom™ D410 atau D510 yang memiliki dua inti, yang kemudian dipasangkan dengan Intel® NM10 Express Chipset.</p>
<p>Pada sistim Pine Trail, seluruh bagian <em>platform </em>termasuk dengan chipset, dikemas dalam ukuran yang lebih kecil oleh karena proses integrasi dan sistem produksi 45nm. Selain lebih kecil desain sistemnya juga lebih padat, sehingga ukuran perangkat yang menggunakan sistem ini praktis bakal lebih ringkas.</p>
<p>“Prosesor Atom Intel telah membuka sebuah kategori baru dalam dunia komputasi selama satu setengah tahun ke belakang dan kami percaya bahwa perkembangan ini akan berlanjut dengan perangkat seperti netbook dan desktop PC tingkat dasar yang dibangun sesuai dengan aktivitas komputasi yang mendasar dan pola pemakaian Internet,” kata Mooly Eden, wakil presiden dan general manager PC Client Group Intel, melalui keterangan tertulis yang diterima <strong>detikINET</strong>, Senin, (21/12/2009).</p>
<p>Salah satu fitur yang paling menarik dalam platform terbaru ini adalah pengendali memori dan grafis yang terintegrasi dalam CPU, pertama kalinya di industri untuk chip berbasis x86. Artinya, hanya terdapat dua chip yakni CPU dan chipset. Dan meninggalkan  konfigurasi lawas yang menggunakan tiga chip: CPU, chipset, dan I/O <em>controller hub</em>.</p>
<p>Dengan demikian, platform Pine Trail ini diklaim akan memiliki konsumsi daya lebih rendah, yang membuatnya lebih hemat energi, biaya dan ramah lingkungan. Netbook dengan sistem Pine Trail diklaim oleh Intel bakal lebih hemat daya sekitar 20 persen dari sistem Atom terdahulu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=48&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/11/prosesor-netbook-generasi-baru-mulai-hadir-januari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.detikinet.com/images/content/2009/12/21/317/intelpinetrailatom285.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jangan bersedih atas kematian seorang ahlul bid&#8217;ah</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/05/jangan-bersedih-atas-kematian-seorang-ahlul-bidah/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/05/jangan-bersedih-atas-kematian-seorang-ahlul-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 12:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur wafat pahlawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[al Fudlail bin Iyyadl berkata -semoga Alloh merahmatinya-: &#8220;Siapa yang menghormati ahli bid’ah berarti ia memberi bantuan untuk meruntuhkkan Islam dan siapa yang tersenyum kepada ahli bid’ah maka ia telah menganggap remeh apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan siapa yang menikahkan puterinya kepada mubtadi’ maka ia telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=46&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>al Fudlail bin Iyyadl berkata -semoga Alloh merahmatinya-:<br />
&#8220;Siapa yang menghormati ahli bid’ah berarti ia memberi bantuan untuk<br />
meruntuhkkan Islam dan<br />
siapa yang tersenyum kepada ahli bid’ah maka ia telah menganggap remeh<br />
apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla kepada Muhammad Shallallahu<br />
&#8216;Alaihi Wa Sallam dan siapa yang menikahkan puterinya kepada mubtadi’<br />
maka ia telah memutuskan hubungan silaturrahimnya dan siapa yang<br />
mengiringi jenazah seorang mubtadi’ akan senantiasa berada dalam<br />
kemarahan Allah sampai ia kembali.&#8221; (Syarhus Sunnah 139)</p>
<p>Abul Qasim An Nashr Abadzy -semoga Alloh merahmatinya- berkata :<br />
“Sampai kepadaku bahwa al Harits al Muhasibiy mengucapkan sesuatu<br />
tentang Al Kalam (Al Quran) maka al-Imam Ahmad bin Hanbal menjauhinya,<br />
ia pun bersembunyi dan ketika ia (al-Harits al-Muhasibiy) mati tidak<br />
ada yang mendatanginya kecuali 4 orang.” (At Tahdzib 2/117 dan Tarikh<br />
Baghdad 8/216)</p>
<p>Ketahuilah, kematian 1 (satu) ulama dari kalangan ahlussunnah lebih<br />
pantas ditangisi,dan kita bersedih atasnya karena tidaklah ilmu itu<br />
diangkat melainkan karena Alloh mewafatkan mereka para ulama<br />
ahlussunnah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=46&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/05/jangan-bersedih-atas-kematian-seorang-ahlul-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasihat Bagi Saudaraku Yang Berulang Tahun ( Bag 1 )</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/03/nasihat-bagi-saudaraku-yang-berulang-tahun-bag-1/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/03/nasihat-bagi-saudaraku-yang-berulang-tahun-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 02:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[kado ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[selamat ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulang tahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=42&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Antum pernah lihat acara ulang tahun? Jika ya, tentulah yang berulang tahun pada saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun. Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah hidup kita berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah hidup kita, kematian semakin mendekat.</p>
<p style="text-align:justify;">Alloh subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman, yang artinya: &#8220;Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada hari kiamat.&#8221; (QS: Ali Imran: 185).</p>
<p style="text-align:justify;">Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu&#8217;alaikum atau meminta permisi pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum kita selesai membaca tulisan ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya. Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah sudah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika &#8216;Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, &#8220;Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang di dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bias lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan berkata, &#8220;Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su&#8217;ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Alloh dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya dalam taat pada Alloh. Rasululloh Shallallohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, &#8220;Siapa saja yang mengucapkan &#8216;Laa ilaaha illaLlaah&#8217; pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh, maka ia akan masuk surga.&#8221; (HR: Ahmad V/391).</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, &#8220;Pada saat kematian seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala dosa hamba. Hamba bertaubat dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah.&#8221; Begitulah yang ia ucapkan terus menerus hingga ia meninggal dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, &#8220;Apa yang membuat Anda menangis?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Demi Alloh, aku ingin menyambut maut dengan taubat.&#8221; Orang-orang berkata, &#8220;Lakukanlah, semoga Alloh memberi rahmat kepadamu. &#8220;Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian meninggal dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mush&#8217;ab bercerita, &#8220;(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena sakit- meminta untuk dituntun dengan berkata,&#8221; Peganglah tanganku,&#8221; Dia masuk masjid bersama imam lalu ruku&#8217; sekali, setelah itu ia meninggal dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan su&#8217;ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh Subhanahu wa ta&#8217;ala. Sebab-sebab su&#8217;ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi Shallallohui &#8216;alaihi wa sallam, menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, &#8220;Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu&#8230;.&#8221; dan begitu seterusnya hingga ia mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, &#8220;Naanana&#8230;naanana&#8230;&#8221; hingga ia mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut, &#8220;Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman keras&#8221; Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, &#8220;Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti itu. &#8220;</p>
<p>Ada pula yang tanda-tanda su&#8217;ul-khotimahnya tampak setelah si malang mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al-Qahthany bercerita, &#8220;Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,&#8221;Mayat itu milikmukah ?&#8221; Ia jawab, &#8220;Ya,&#8221; Aku bertanya lagi, &#8220;Apa ia ayahmu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Aku bertanya, &#8220;Kenapa ayahmu itu sampai begini?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Sewaktu hidupnya ia tidak sholat.&#8221; Maka aku katakan kepadanya, &#8221; Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia !&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Qayyim berkata, &#8220;Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal ini suatu kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kita mohon perlindungan Alloh dari su&#8217;ul-khotimah. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, &#8220;Aku begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, &#8221; Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Abu &#8216;Athi&#8217;ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang bertanya, &#8220;Mengapa Anda ketakutan?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan su&#8217;ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su&#8217;ul-khotimah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa su&#8217;ul-khotimah, apa yang harus dilakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Simak hadits ini:<br />
Dari Ali bin Abu Thalib radhiyAllohu &#8216;anhu dari Nabi shallAllohu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, &#8220;Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya, maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka&#8221; Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, &#8221; Ya Rasululloh, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita dan kita tidak usah beramal ?&#8221; Rasululloh ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang celaka. &#8220;Kemudian beliau membaca firman Alloh: &#8220;Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [QS: Al Lail: 5-10]&#8221; (HR: Al-Bukhary dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh menghindarkan kita dari jalan yang celaka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca buku buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikutip dari milist group INDAHNYA ISLAM ( facebook )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=42&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2010/01/03/nasihat-bagi-saudaraku-yang-berulang-tahun-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penampilan Nyunnah adalah Syiar Islam, Bukan Ciri Teroris!</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2009/09/16/penampilan-nyunnah-adalah-syiar-islam-bukan-ciri-teroris/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2009/09/16/penampilan-nyunnah-adalah-syiar-islam-bukan-ciri-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 09:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/2009/09/16/penampilan-nyunnah-adalah-syiar-islam-bukan-ciri-teroris/</guid>
		<description><![CDATA[Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan syari’at Islam dengan sempurna dan meliputi segala hal, berlaku untuk semua zaman, semua tempat, dan dalam semua kondisi. Baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq sopan santun, cara berpenampilan dan berpakaian, cara bermuamalah antar sesama, dan banyak lagi. Semuanya telah lengkap dan sempurna. Syari’at Islam ada yang bersifat batin/tidak tampak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=39&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan syari’at Islam dengan sempurna dan meliputi segala hal, berlaku untuk semua zaman, semua tempat, dan dalam semua kondisi. Baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq sopan santun, cara berpenampilan dan berpakaian, cara bermuamalah antar sesama, dan banyak lagi. Semuanya telah lengkap dan sempurna.</p>
<p>Syari’at Islam ada yang bersifat batin/tidak tampak, ada pula yang bersifat zhahir/tampak. Semuanya merupakan bagian dari syari’at Islam yang harus diamalakan oleh setiap individu muslim. Syi’ar-syi’ar Islam harus dihormati dan dijunjung tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :</p>
<p>َلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]</p>
<p>Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (Al-Hajj : 32)</p>
<p>Di antara aturan syari’at Islam yang penuh rahmat ini adalah cara berpenampilan. Islam telah memberikan ketentuan bagi kaum mukminin dan mukminah dalam cara berpenampilan dan berpakaian.</p>
<p>Terkait dengan mukminin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه</p>
<p>(Batas panjang) pakaian (sarung, gamis, celana) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis, dan tidak mengapa jika sampai antara pertengahan betis dengan dua mata kaki. Kain yang (dipanjangkan sampai) berada di bawah mata kaki maka itu di neraka. Barangsiapa yang menjulurkan sarung (melebihi mata kaki) karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya. (HR. Abu Dawud 4093).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa cara berpakaian seorang muslim harus di atas mata kaki, tidak boleh di bawah mata kaki. Ini ketentuan syari’at Islam sekaligus ini merupakan ajaran junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang berani melanggar ketentuan ini dengan sengaja maka dia diancam dengan neraka. Jika melanggar aturan ini karena sombong, maka ancamannya lebih besar lagi.</p>
<p>Seorang muslim yang cinta ajaran Nabinya, cinta agama Islam, tunduk dan patuh kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla, maka pasti dia akan memperhatikan aturan syari’at Islam yang satu ini. Dengan tanpa malu atau gengsi ia akan berpenampilan dengan pakaian (sarung, gamis, celana) di atas mata kaki atau setengah betis.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang berjenggot lebat dan berambut tebal. Ini merupakan teladan dari beliau dalam berpenampilan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berjenggot. Beliau bersabda :</p>
<p>« قصوا الشوارب وأعفوا اللحى خالفوا المشركين »<br />
Potonglah kumis-kumis (kalian) dan panjangkanlah jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum musyrikin. (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :</p>
<p>جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس »<br />
Pangkaslah kumis-kumis (kalian) dan biarkan panjang jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum majusi. (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan kewajiban memanjangkan jenggot sekaligus menunjukkan haram menggunting atau mencukur jenggot. Ini adalah perintah dan larangan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Demikian juga, Islam sebagai syari’at yang lengkap dan sempurna, pembawa rahmat bagi alam semesta, sangat menghargai dan menjaga kehormatan kaum wanita. Jangan sampai mereka menjadi mangsa pihak-pihak tidak bertanggungjawab. Di antara bentuk penjagaan Islam terhadap kaum wanita adalah mereka diwajibkan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh aurat mereka, mulai dari rambut, leher, tengkuk, dada, punggung, kaki, dan seluruh anggota tubuh mereka. Perintah ini Allah tegaskan dalam Al-Qur`an pada surat An-Nur : 31 dan surat Al-Ahzab : 59. Sebagai generasi yang taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya para istri Nabi dan para shahabiyyah segera melaksanakan perintah tersebut. Islam mempersyarakatkan baju yang dikenakan tersebut harus menutupi seluruh tubuh, lebar, tidak ketat atau transparan, tidak berwarna mencolok atau menarik, dan beberapa kriteria lainnya.</p>
<p>Termasuk yang juga harus ditutup oleh kaum wanita adalah wajah. Ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan :</p>
<p>“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, ketika kami (para wanita) berhaji bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka ketika mereka (para pengendara laki-laki tersebut) telah dekat, masing-masing kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).</p>
<p>Beberapa ketentuan terkait penampilan dan pakaian di atas merupakan ketentuan syari’at Islam dan merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja itu menjadi ciri khas bagi kaum muslimin yang taat menjalankan ajaran syari’at, cinta kepada bimbingan Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penampilan Islami tersebut merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa, ciri orang yang shalih, ciri orang yang taat dan cinta pada agama Islam.</p>
<p>Penampilan Islami di atas bukan bikinan kelompok/golongan atau bangsa tertentu, bukan pula ciri khas kelompok atau bangsa tertentu, bukan pula sekedar adat kebiasan masyarakat, bangsa, atau kelompok tertentu. Tapi merupakan aturan syariat Islam, merupakan ketentuan yang berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diajarkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Sungguh musibah telah menimpa kaum muslimin. Setelah kaum teroris &#8211; khawarij mencoreng Islam dan kaum muslimin, mencemarkan nama harum jihad, mereka juga mencemarkan syiar-syiar Islam. Sebagian kaum teroris &#8211; khawarij tersebut ternyata menampakkan atribut-atribut Islami di atas, bahkan mereka jadikan atribut Islami tersebut sebagai sarana untuk penyamaran dan melarikan diri!!</p>
<p>Maka timbullah stigma di masyarakat bahwa orang-orang berjenggot, bergamis, bercelana di atas mata kaki, atau istri bercadar berarti adalah teroris, atau sepaham/sealiran dengan teroris, atau minimalnya pro teroris sehingga harus dicurigai dan diselidiki. Sungguh jahat para teroris &#8211; khawarij tersebut, akibat ulah mereka syiar Islam yang mulia menjadi tercitrakan jelek.</p>
<p>Yang sangat disesalkan adalah justru sebagaian kaum muslimin sendiri menjadi benci terhadap jenggot, gamis, cadar, dll serta ikutan-ikutan menaruh curiga kepada setiap orang yang mengenakannya. Maka suasana ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membenci syariat Islam, untuk kembali menghembuskan isu bahwa jenggot, gamis, cadar, dll bukan bagian dari Islam, itu hanya adat arab badui, atau merupakan ciri-ciri kelompok garis keras. Sungguh keyakinan demikian telah menginjak-injak syari’at Islam, dan disadari maupun tidak merupakan pengingkaran terhadap sebagian ajaran Islam. Yang lebih disesalkan adalah justru stigma negatif di atas juga disuarakan oleh orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh Islam, atau cendekiawan muslim. Sungguh komentar-komentar mereka tidak memberikan solusi, tapi malah membuat suasana semakin keruh</p>
<p>Sikap sebagian kaum muslimin yang menaruh curiga terhadap segala atribut Islami di atas &#8211; bahkan di beberapa daerah sampai pada tindakan main hakim sendiri &#8211; bukanlah solusi untuk memberantas terorisme. Justru hal itu menunjukkan ketidakpahaman umat terhadap hakekat terorisme, di sisi lain menunjukkan betapa rapuhnya aqidah umat sehingga sangat mudah dikendalikan oleh media massa dan tokoh-tokoh yang tidak jelas.</p>
<p>Terorisme &#8211; Khawarij muncul karena kecintaan yang besar terhadap Islam dan semangat memperjuangkan Islam, namun keluar dari metode yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Terorisme yang muncul sekarang sebenarnya berakar dan merupakan kelanjutan dari paham sesat khawarij.</p>
<p>Untuk membentengi membentengi diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, lingkungan dan masyarakat kita dari paham sesat khawarij maka umat Islam harus kembali merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah di bawah bimbingan para ‘ulama yang meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).</p>
<p>Segala problem yang menimpa kaum muslimin tidak akan tercabut kecuali jika kaum muslimin mau kembali kepada ajaran agama mereka. Tidak akan menjadi baik kondisi umat di akhir zaman ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awal Islam, yaitu berpegang kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan prinsip pemahaman yang benar, yaitu metode pemahaman para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).</p>
<p>(Dikutip dari http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=66#more-66)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=39&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2009/09/16/penampilan-nyunnah-adalah-syiar-islam-bukan-ciri-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Neraka</title>
		<link>http://abufariq.wordpress.com/2009/06/30/dahsyatnya-neraka/</link>
		<comments>http://abufariq.wordpress.com/2009/06/30/dahsyatnya-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 22:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufariq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufariq.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahiim Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai manusia yang durhaka dan senantiasa bergelimang dengan maksiat dan dosa, tidakkah kedahsyatan jahannam menggetarkan hatimu? Allah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang ingkar lagi sombong. Ingatlah tatkala jahannam ditarik dengan 70.000 tali kekang dan setiap tali ditarik oleh 70.000 malaikat, saat itu orang-orang kafir dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=32&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bismillahirrahmanirrahiim<br />
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.<br />
Wahai manusia yang durhaka dan senantiasa bergelimang dengan maksiat dan dosa, tidakkah kedahsyatan jahannam menggetarkan hatimu? Allah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang ingkar lagi sombong. Ingatlah tatkala jahannam ditarik dengan 70.000 tali kekang dan setiap tali ditarik oleh 70.000 malaikat, saat itu orang-orang kafir dalam kehinaan, mereka berharap seandainya dapat menebus semua itu dengan emas sebesar dunia.<br />
Sungguh besar kehinaan dan kecelakaan para penghuninya. Sungai neraka adalah darah dan nanah busuk yang menggelegak, minumannya adalah air yang mendidih, naungannya adalah awan hitam yang panas, anginnya adalah samum yang membawa hawa panas, makanannya adalah zaqqum yang jika setetesnya jatuh ke bumi, niscaya hancurlah dunia dan seisinya, bahan bakarnya adalah manusia dan batu api, panasnya membakar kulit hingga ke ulu hati, pakaiannya adalah baju ter yang membakar, kedalamannya sejauh batu yang diluncurkan selama 70 tahun. Suara neraka akan meraung geram kepada penghuninya. Mereka akan dibelenggu dengan rantai besi membara dan dipukul dengan palu godam, yang jika mengenai sebuah gunung niscaya gunung tesebut akan menjadi abu, wajah-wajah mereka diseret di atas bara api sedang tangan mereka terikat. Duhai . kecelakaan apalagi yang pedih besar dari itu semua. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam . Amiin.</p>
<p style="text-align:justify;">LOKASI NERAKA<br />
Jika surga terletak di langit ke tujuh, maka sebagian salaf berkata neraka terletak di dasar bumi yang ke tujuh (begitu pendapat Ibnu Mas’ud dan lainnya). Namun para jumhur tawaqquf (berdiam diri) dalam masalah ini, dan inilah pendapat yang dipilih oleh As-Suyuthi dan Waliyullah Ad-Dahlawi.</p>
<p style="text-align:justify;">PEMANDANGAN LAIN DI JAHANNAM<br />
Di Jahannam terdapat sebuah gunung api Shu’uda yang Allah memerintahkan orang kafir (Al-Walid bin Mughirah) untuk mendakinya. (Lihat QS. Al-Muddatstsir: 17). Menurut riwayat Imam Ahmad, setiap kali dia meletakkan tangannya di atas gunung tersebut, maka tangannya langsung meleleh. Dan ketika diangkat kembali seperti semula. Dia akan menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk mendakinya, dan menuruninya selama 70 tahun juga.<br />
Di Jahannam juga terdapat lembah Al-Ghayy, yaitu lembah di dasar Jahannam yang dialiri nanah bercampur darah dari para penghuni neraka. Lembah ini disediakan Allah kepada mereka yang meremehkan shalat dan mengikuti syahwatnya. (Lihat QS. Maryam: 59).<br />
Juga lembah Atsam yang berisi ular dan kalajengking, adzab di dalamnya berlipat-lipat. Lembah ini diperuntukkan bagi mereka yang berbuat syirik, berzina dan membunuh jiwa tanpa hak. (Lihat QS. Al-Furqan: 68).<br />
Ada juga lembah Maubiqa yang berisi nanah di dalam neraka Jahannam. Allah menyiapkannya untuk para penyembah berhala. (Lihat QS. Al-Kahfi: 51-52).<br />
Ada juga sebuah rumah bernama Al-Falaq, Ibnu Rajab mengatakan jika pintunya dibuka, maka seluruh penduduk neraka akan menjerit karena tidak mampu menahan panasnya. Wallahu a’lam.<br />
Di Jahannam juga terdapat penjara Bulas dimana orang-orang yang menyombongkan diri akan digiring seperti semut-semut kecil berbentuk manusia, mereka diselimuti dengan kobaran api dan terbenam dalam keringat dan nanah yang bercampur darah penduduk neraka. (HR. Ahmad, hasan).<br />
Belenggu Jahannam. Di dalam Jahannam ada tiga belenggu; Al-Aghlal, yaitu belenggu dari besi membara yang dipasang dileher penduduk neraka. (QS. Saba: 33), Al-Ashfad, yaitu tali api yang sangat kuat sehingga membuat seseorang tak berdaya. (QS. Ibrahim: 49) dan As-Salasil, yaitu rantai besi yang panjangnya 70 hasta. (QS. Al-Haqqah: 32).<br />
Cambuk Jahannam. Allah berfirman: “Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 21).</p>
<p style="text-align:justify;">PARA PENJAGA NERAKA<br />
Allah menggambarkan tentang karakter malaikat penjaga neraka, mereka adalah makhluk yang sangat keras dan kasar. Allah berfirman:<br />
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).</p>
<p style="text-align:justify;">MAKANAN DAN MINUMAN DI NERAKA<br />
Pohon Zaqqum, mayangnya seperti kepala syetan, tumbuh di bawah dasar neraka Jahim, setiap yang memakannya, maka ususnya akan terburai. (QS. Ash-Shaffat: 62-68).<br />
Pohon Dhari, yaitu pohon duri yang sangat keras, tidak dapat menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar, karena ia menyumbat tenggorokan, tidak keluar dan tidak juga masuk ke dalam perut, demikian menurut Ibnu Abbas. (QS. Al-Ghasiyah: 6).<br />
Ghislin, yaitu nanah bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka. (QS. Al-Haqqah: 35-37).<br />
Al-Hamim, yaitu air yang sangat panas yang akan disuguhkan dengan besi panas yang ujungnya dibengkokkan. (QS. An-Naba’: 24-25).<br />
Al-Ghassaq, air yang sangat dingin. Menurut Ibnu Umar ia adalah nanah kental yang jika setetesnya ditumpahkan di barat bumi, niscaya penduduk timur akan mencium baunya yang sangat busuk.<br />
Ash-Shadid, (QS. Ibrahim: 16), yaitu air nanah bercampur darah. Ibnu Rajab berkata, air shadid akan membuat wajah mereka hangus, sekaligus membuat seluruh kulit kepala dan rambutnya mengelupas.</p>
<p style="text-align:justify;">PINTU-PINTU NERAKA<br />
Jahannam memiliki 7 pintu yang tiap-tiap pintu telah ditetapkan golongan yang akan memasukinya. Allah berfirman:<br />
“Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr: 43-44).<br />
Ibnu Juraij berkata tentang ayat tersebut:<br />
“Yang pertama adalah Jahannam, kemudian neraka Ladza, neraka Huthamah, neraka Sa’ir, neraka Saqar, Jahim dan Hawiyah”.<br />
Pintu-pintu neraka tertutup rapat, sebagaimana firman Allah:<br />
“Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah:  .<br />
“Mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat.” (QS. Al-Balad: 20).<br />
Ibnu Rajab berkata:<br />
“Pintu-pintu neraka akan selalu tertutup sebelum dimasuki oleh penghuninya nanti pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:<br />
“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya.” (QS. Az-Zumar: 71).</p>
<p style="text-align:justify;">GAUNG KEGERAMAN SUARA NERAKA<br />
Orang-orang kafir dapat mendengar raungan suara neraka yang penuh dengan kegeraman dari jarak yang jauh. Allah berfirman:<br />
“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (QS. Al-Furqan: 11).<br />
Juga firman-Nya:<br />
“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah.” (QS. Al-Mulk: 7).<br />
Ka’ab pernah berkata kepada Umar bin Khaththab:<br />
“Demi Allah, Neraka Jahannam akan mengeluarkan gaung suaranya. Tidak ada satu malaikat yang dekat kepada Allah atau makhluk yang lain kecuali akan terjatuh di atas kedua lututnya sambil berkata: “Ya Allah, pada hari ini hendaklah manusia mengurus dirinya sendiri-sendiri.”</p>
<p style="text-align:justify;">KADAR HAWA DAN PANAS NERAKA<br />
Rasulullah saw. bersabda:<br />
“Api kalian yang ada sekarang ini yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam. (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Ibnu Rajab menukil pendapat Ka’ab kepada Umar bin Khaththab:<br />
“Seandainya neraka Jahannam dibuka seukuran hidung lembu di bumi sebelah timur, dan ada seseorang di belahan bumi bagian barat, pasti otaknya akan meleleh karena tidak mampu menahan panasnya”.<br />
Di antara penyebab hawa dan panas neraka sedemikian memuncak adalah tidak berfungsinya 3 unsur pendingin dari panas bagi manusia, yaitu air, angin dan naungan untuk berteduh. Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang juga panas). (Lihat QS. Al-Waqi’ah: 41-44).</p>
<p style="text-align:justify;">PERMOHONAN PENDUDUK NERAKA KEPADA PENDUDUK SURGA<br />
Para penduduk neraka merasa iri dengan apa yang Allah berikan kepada penduduk surga berupa makanan dan minuman yang sangat nikmat, mereka merengek sekiranya di antara penduduk surga ada yang mau memberikan sedikit saja kepada mereka. Di antara penduduk surga ada yang merasa iba, hingga hampir-hampir memberikannya. Namun Allah mengharamkan manakan dan minuman itu bagi penduduk neraka. (Lihat QS. Al-A’raf: 44-50).</p>
<p style="text-align:justify;">BAHAN BAKAR NERAKA<br />
Allah berfirman:<br />
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;” (QS. At-Tahrim: 6).<br />
Sebagian mufassir mengatakan bahwa batu tersebut adalah batu korek atau belerang, ada yang mengatakan batu berhala yang dahulu disembah orang musyrik, mereka menjadi bahan bakar neraka sebagai penghinaan atas sesembahan mereka, begitu pula para penyembahnya. (Lihat QS. Al-Anbiya’: 98-99).</p>
<p style="text-align:justify;">KONDISI PENGHUNI NERAKA<br />
Wajah mereka cacat dan terbakar. (QS. Al-Mukminun: 104).<br />
Setiap kulit mereka matang karena terbakar, maka Allah akan mengganti kulit yang baru, begitulah seterusnya. (QS. An-Nisa’: 56).<br />
Wajah yang hangus menghitam, karena kepala mereka akan disematkan mahkota api.<br />
Penduduk neraka akan mengeluarkan bau yang sangat busuk dari tubuh mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">PAKAIAN DI NERAKA<br />
Pakaian dari Qathiran yang terbuat dari tembaga yang dilebur. (QS. Ibrahim: 49-50).<br />
Tikar dan selimut api (Mihad dan Ghawasy). (QS. Al-A’raf: 41).</p>
<p style="text-align:justify;">SUMUR DAN JURANG NERAKA<br />
Kedalamannya sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah:<br />
“Pada suatu hari kami bersama Nabi saw. Lantas kami mendengar suara benda jatuh, kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Tahukah kalian, suara apakah itu?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi saw. bersabda: “Itu adalah suara batu yang dikirim dari neraka jahannam sejak 70 tahun yang lalu. Dan sekarang baru sampai ke dasar neraka.”</p>
<p style="text-align:justify;">LUAS JAHANNAM<br />
Untuk mengetahui luas dan besarnya jahannam, dapat dibayangkan seandainya jahannam itu memiliki 70.000 tali kekang dan setiap tali kekang dipegang oleh 70.000 malaikat (Shahihul Jami’ 7.878). Juga dengan mengetahui besarnya tubuh para penghuninya, yang gerahamnya sebesar gunug Uhud, jarak antara kedua pundaknya sama dengan perjalanan 3 hari, tempat duduknya sejauh Makkah dan Madinah, bahkan seandainya seorang penduduk neraka menangis, maka air matanya yang menetes dapat menjadikan sebuah perahu berlayar di atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">BERBAGAI BENTUK SIKSAAN BAGI PENDUDUK NERAKA<br />
Seringan-ringan siksa adalah seseorang yang memakai terompah dari bara api, sehingga menyebabkan otaknya mendidih. (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Kepala mereka akan disiram dengan air panas sehingga melelehkan otak mereka, begitu pula isi perut dan kulit mereka. (QS. Al-Hajj: 19-21).<br />
Wajah mereka akan diseret di atas bara api, juga dibolak-balik seperti daging bakar. (QS. Al-Ahzab: 66).<br />
Wajahnya akan dihitamkan seperti tertutup kepingan malam yang gelap gulita. (QS. Yunus: 27).<br />
Dikepung api dari segala penjuru. (QS. Al-Ankabut: 55 dan Az-Zumar: 16).<br />
Api membakar hati penduduk neraka, sehingga dari hati mereka keluar api.<br />
Isi perut manusia akan terburai (menimpa kepada Amru bin Luhay, orang yang pertama kali merubah ajaran tauhid nabi Ibrahim menjadi penyembahan terhadap berhala).<br />
Terjun dari atas neraka, yaitu bagi mereka yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi.<br />
Tidak pernah mati selamanya. (QS. Ibrahim: 17).<br />
Siksaannya tidak pernah berhenti. (QS. Al-Mukmin: 49-50).</p>
<p style="text-align:justify;">ULAR DAN KALAJENGKING JAHANNAM<br />
Dalam menjelaskan firman Allah:<br />
“Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl: 88).<br />
Ibnu Mas’ud berkata:<br />
“Yaitu kalajengking yang taringnya seperti pohon kurma yang panjang.”<br />
Imam As-Sudi mengatakan bahwa ia adalah ular-ular di dalam neraka. Riwayat tentang ular dan kalajengking di neraka tidak ada yang marfu’ sampai ke Nabi saw, kebanyakan mauquf pada sahabat dan sebagian israiliyat. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:justify;">JERITAN, RINTIHAN DAN LOLONGAN PENDUDUK NERAKA<br />
Di antara kengerian neraka; penduduknya merintih dan menjerit serta melolong seperti keledai yang meringkik keras, yang demikian itu karena saking pedihnya siksa yang dirasakan. (Lihat QS. Al-Anbiya’: 100, Hud: 106 dan Fathir: 37). Penduduk neraka akan menangis sampai air mata mereka habis, sehingga yang keluar dari matanya adalah darah, ya darah, bukan air lagi!<br />
Mereka merintih dan memohon agar dapat dikeluarkan dari siksa neraka, mereka berjanji akan beramal shalih jika dikembalikan di dunia. Namun harapan mereka adalah harapan kosong dan doa mereka adalah doa yang sia-sia. Malaikat berkata: “Sesungguhnya kalian akan tetap berada di neraka ini.” (QS. Az-Zukhruf: 77).</p>
<p style="text-align:justify;">SIAPAKAH PENDUDUK NERAKA?<br />
Dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih disimpulkan bahwa penduduk neraka adalah orang yang musyrik, kafir, munafik, orang-orang sombong, orang-orang yang tidak mengingkari Thaghut (sesembahan yang disembah selain Allah) dan pemimpin zalim, para pezina dan homoseks, peminum khamer (minuman keras), pemakan riba (seperti bunga Bank), uang judi (seperti togel, siji, Asuransi dll) dan harta anak yatim tanpa alasan yang benar, pembunuh orang mukmin tanpa hak, pelaku bunuh diri, orang yang tidak mau berjihad dan tidak mau membantu kaum muslimin yang tertindas dan diperangi, orang yang meninggalkan shalat, zakat, dan shaum (puasa), para dayyuts (orang yang membiarkan perbuatan maksiat terjadi di hadapannya) dan orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dll. Wallahu a’lam.<br />
Semoga kita tidak menjadi bagian dari Penduduk Neraka! Amiin Ya Allah..!<br />
Wallahu A’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufariq.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufariq.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufariq.wordpress.com&amp;blog=2521918&amp;post=32&amp;subd=abufariq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufariq.wordpress.com/2009/06/30/dahsyatnya-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99a002307607291cfbfa48da9d25e8ce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufariq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
